Bismillah...
Kepengen Ngafal Qur'an bukan hanya kepengen dimulut yah. Tapi, bener dilaksanakan. Untuk usaha saat ini cari motivasi ya dan ketemu motivasi ini dari ngutip dari beberapa blog orang juga,hihi. (Lupa blognya). Kenapa pengen Ngafal, saya gak punya apa-apa. Mudah mudahan dengan hafalan ini saya punya pegangan sesuatu gitu. Maa syaa Allah .
*****
Ada salah satu santri kesayangan saya yang kebetulan bekerja sebagai asisten rumah tangga di komplek. Saban hari dia pasti mendekap Quran (plus terjemah) untuk dibawa ke rumah tempat dia bekerja.
Kalau dahulu, sambil masak atau menggosok itu sambil nyanyi, sekarang sambil murojaah atau menghafal Al Quran. Masyaa Allah Tabarakallahu.
Bagaimana sikap majikan yang mendapati sang ART sekarang getol menghafal Al Quran?
Sang majikan sih senang-senang aja. Bahkan cenderung tak berani memindahkan Al Quran yang sering tergeletak dimana saja ART meninggalkannya.
Dan bagusnya, dua bocah yang diasuh sang ART ikut hafal Al Kahfi.
Emak-emak ini juga sudah mengubah kebiasaan menina-bobokan anak yang semula dengan nyanyian, sekarang dengan ayat-ayat suci. Tidak ada lagi musik di rumah. Yang ada murottal.
Alhasil bukan hanya emak-emak yang hafal surah Al Kahfi, anak-anak mereka yang masih balita pun lancar melantunkan surah Al Kahfi. Kok bisa?
Iya maklum, emak-emak kalau murojaah atau hafalan suaranya keras dan berulang-ulang.
Bahkan ada emak-emak kalau mau setoran 1 ayat saja harus diulang 50 kali. Alhasil si anak yang hanya mendengar ikut kecipratan hafal. Alhamdulillah. Maa syaa Allah..
Daaaannnnn....
Bagaimana cara kita membuktikan bahwa Qur’an memang prioritas kita, sehingga nantinya kita mampu menghafalkannya?
Ini dia yang Bu Mia (irt, hafizoh quran) bagikan :
1. Sediakan waktu komitmen, bukan waktu sisa/senggang. Misalnya, setiap menjelang subuh.
2. Sepanjang waktu menghafal Al Qur’an. Jangan biarkan “waktu diam” kita dijajah oleh hal yang sia-sia.
Waktu-waktu seperti di perjalanan naik angkot sepulang dari pasar, waktu masak, waktu nyuci piring, nyapu, dll. Percayalah, emak-emak itu multitasking!
3. Mulai menghafal dari ayat-ayat yang mudah seperti juz amma.
Membaca dengan tartil dan memperhatikan tajwidnya, sebagaimana sudah diperintahkan dalam QS. Al Muzamil: 4.
4. Menghafal dengan penuh penghayatan dan kekhusyu’an.
5. Menghafal dengan senang hati. Jadi, kalau hati ini sudah ada alarm merasa terpaksa atau berat dalam menghafal, istigfar.. banyak-banyak istigfar dan lemesin dulu hatinya. Biar ngga keseret-seret rasanya.
6. Membaca ayat yang sedang dihafal dengan suara nyaring.
7. Membatasi jumlah hafalan dalam setiap harinya. (Ada target harian yang disesuaikan dengan kemampuan kita)
8. Menggunakan langsung hafalan Al Qur’an yang sudah kuat dalam sholat.
9. Membuat target harian per bulannya, tulis dalam kertas, tempel di cermin atau area sekitarnya.
Kata Bu Mia, cermin itu pojok yang sering menjadi sorotan wanita, jadi pas sekali menempelkan tulisan target hafalan di dekat cermin.
Sekian, segitu dulu aja inspirasinya gak banyak. Kalau kebanyakan takutnya gak mulai - mulai, hhee (pengalaman).
Bismillah deh, kita mulai lagi maak !
Kepengen Ngafal Qur'an bukan hanya kepengen dimulut yah. Tapi, bener dilaksanakan. Untuk usaha saat ini cari motivasi ya dan ketemu motivasi ini dari ngutip dari beberapa blog orang juga,hihi. (Lupa blognya). Kenapa pengen Ngafal, saya gak punya apa-apa. Mudah mudahan dengan hafalan ini saya punya pegangan sesuatu gitu. Maa syaa Allah .
*****
Ada salah satu santri kesayangan saya yang kebetulan bekerja sebagai asisten rumah tangga di komplek. Saban hari dia pasti mendekap Quran (plus terjemah) untuk dibawa ke rumah tempat dia bekerja.
Kalau dahulu, sambil masak atau menggosok itu sambil nyanyi, sekarang sambil murojaah atau menghafal Al Quran. Masyaa Allah Tabarakallahu.
Bagaimana sikap majikan yang mendapati sang ART sekarang getol menghafal Al Quran?
Sang majikan sih senang-senang aja. Bahkan cenderung tak berani memindahkan Al Quran yang sering tergeletak dimana saja ART meninggalkannya.
Dan bagusnya, dua bocah yang diasuh sang ART ikut hafal Al Kahfi.
Emak-emak ini juga sudah mengubah kebiasaan menina-bobokan anak yang semula dengan nyanyian, sekarang dengan ayat-ayat suci. Tidak ada lagi musik di rumah. Yang ada murottal.
Alhasil bukan hanya emak-emak yang hafal surah Al Kahfi, anak-anak mereka yang masih balita pun lancar melantunkan surah Al Kahfi. Kok bisa?
Iya maklum, emak-emak kalau murojaah atau hafalan suaranya keras dan berulang-ulang.
Bahkan ada emak-emak kalau mau setoran 1 ayat saja harus diulang 50 kali. Alhasil si anak yang hanya mendengar ikut kecipratan hafal. Alhamdulillah. Maa syaa Allah..
Daaaannnnn....
Bagaimana cara kita membuktikan bahwa Qur’an memang prioritas kita, sehingga nantinya kita mampu menghafalkannya?
Ini dia yang Bu Mia (irt, hafizoh quran) bagikan :
1. Sediakan waktu komitmen, bukan waktu sisa/senggang. Misalnya, setiap menjelang subuh.
2. Sepanjang waktu menghafal Al Qur’an. Jangan biarkan “waktu diam” kita dijajah oleh hal yang sia-sia.
Waktu-waktu seperti di perjalanan naik angkot sepulang dari pasar, waktu masak, waktu nyuci piring, nyapu, dll. Percayalah, emak-emak itu multitasking!
3. Mulai menghafal dari ayat-ayat yang mudah seperti juz amma.
Membaca dengan tartil dan memperhatikan tajwidnya, sebagaimana sudah diperintahkan dalam QS. Al Muzamil: 4.
4. Menghafal dengan penuh penghayatan dan kekhusyu’an.
5. Menghafal dengan senang hati. Jadi, kalau hati ini sudah ada alarm merasa terpaksa atau berat dalam menghafal, istigfar.. banyak-banyak istigfar dan lemesin dulu hatinya. Biar ngga keseret-seret rasanya.
6. Membaca ayat yang sedang dihafal dengan suara nyaring.
7. Membatasi jumlah hafalan dalam setiap harinya. (Ada target harian yang disesuaikan dengan kemampuan kita)
8. Menggunakan langsung hafalan Al Qur’an yang sudah kuat dalam sholat.
9. Membuat target harian per bulannya, tulis dalam kertas, tempel di cermin atau area sekitarnya.
Kata Bu Mia, cermin itu pojok yang sering menjadi sorotan wanita, jadi pas sekali menempelkan tulisan target hafalan di dekat cermin.
Sekian, segitu dulu aja inspirasinya gak banyak. Kalau kebanyakan takutnya gak mulai - mulai, hhee (pengalaman).
Bismillah deh, kita mulai lagi maak !
Tags:
Pengasuhan Anak
