Tips untuk IRT sibuk. Hafalan Quran masih ambyar tapi tetep bisa membimbing hafalan anak.
Beberapa ibu cukup merasa dilema, saat menikah quran belum lancar.
Yang sudah lancarpun bisa ambyar setelah menikah, apalagi jika kondisi rumah tangga kurang sesuai harapan.
Di sisi lain, kita harus tetap murojaah, apalagi jika sudah punya anak.
Ingin murojaah sendiri, tapi nggak bisa fokus membimbing anak.
Ingin fokus membimbing anak, qur'an kita makin ambyar.
Lalu bagaimana solusinya, agar kita tetap punya waktu prioritas untuk anak dan quran kita tetep terawat serta pekerjaan kita sebagai IRT tidak terbengkalai ?
Berikut poin-poin penting TIPS ajaib yang saya dapat dari Bu Hanum Michmadhana yang sudah beliau praktekkan.
Saya rangkum dan rapikan kembali disini semoga saya dan kita semua bisa mengambil manfaatnya🙏
1. Optimalkan waktu-waktu khusus untuk fokus pada anak.
Bisa mengikuti waktu yang tertulis atau bisa di kondisikan sesuai keadaan.
2. minimal ba'da subuh dan maghrib, karena 2 waktu itu ibarat waktu keramat.
Jangan gunakan untuk kesia-siaan.
Kita bisa menghafal atau murojaah semampu kita.
3. minimal ngaji/murojaah 1 juz atau 2 juz saja, selebihnya gunakan untuk fokus quran anak dan urusan rumah tangga.
4. Nggak perlu takut quran kita nggak lancar-lancar, yang penting ngaji / murojaah aja 1 juz/2 juz tiap hari dengan nyuri-nyuri waktu, artinya bukan di waktu-waktu wajib yang kita fokuskan untuk anak.
5. Point pentingnya disini adalah, ba'da subuh saat anak murojaah 1 juz / sesuai kemampuan, kita juga ikut membaca, artinya kita baca bareng-bareng dengan tartil.
Si anak fokus ngaji, kita bisa nyambi masak, beres-beres, dll, sambil terus aktif mengikuti bacaan anak.
Kalo beliau tiap pagi selalu teriak-teriak ngaji bareng anak, nyambi ngerjain jajanan untuk jualan, nyambi ngurus bayi, masak, pokoknya heboh selalu tiap pagi.
6. Ajaibnya, kerjaan beres, otomatis quran ibu terawat, quran anak juga terawat.
7. Dan yang utama hati adem tentram sebab barokah quran.
8. Dhuhur dan Ashar: mengulang ziyadah setengah halaman 20 kali, kita juga ikut baca.
Bagi anak yang belum terbiasa pasti keberatan baca 20 kali, nah disini kita bisa mengakalinya.
" nak baca 20 kali ya...."
" 5 aja ya mak.....
10 aja ya mak....
Ketika anak baru kuat 5 kali, maka yg 15 kita yg baca.
Saat anak kuat 10, kita baca 10, tapi dengan selang seling.
" nggak papa nak kita bergantian bacanya ya....
123 mamak, 4 kamu, 56 mamak lagi, 78 kamu lagi.... okey....dst.... dst....."
9. Kalaupun pas anak bener-bener nggak mau mengulang-ulang, yang penting pada waktu-waktu yang sudah kita tetapkan, kita harus istiqomahkan.
Anak anteng, kita yang baca 20 kali, anak mendengarkan kita.
Di sinilah poin penting melatih keistiqomahan sejak dini.
10. Yang cuma dengerin murottal aja bisa hafal, apalagi dengerin suara ibunya sendiri dengan sepenuh hati.
Pasti lebih mudah masuk dalam pikiran.
Yang cuma dengerin murottal aja bisa hafal, apalagi dengerin suara ibunya sendiri dengan sepenuh hati.
Yakin, jika tips di atas kita istiqomahkan, lama-lama quran kita yg ambyar bisa melekat kembali, karena kita juga aktif mengulang-ulang bareng anak.
Jangankan yang cuma ambyar, yang nggak hafalpun, insya Allah bisa hafal.
Anak hafal, kita ikut hafal.
Makanya ketika ada yg curhat, saya ingin membimbing anak hafalan, tapi saya seolah nggak kebagian waktu untuk murojaah.
Penting mana ngajari anak atau melancarkan quran diri sendiri ?
Utamakan waktu untuk membimbing anak, kita murojaah/ngafal semampunya saja.
Dan ternyata hasil yg didapatkan sungguh di luar dugaan.
Ayat yang sudah dihafal bareng anak bisa sangat melekat dibanding yg belum dihafal sama anak.
Begitulah kiranya, semoga bisa dipahami dan bisa dipraktekkan.
NB:
Selalu sediakan stok sabar, karena prakteknya akan selalu lebih sulit dari sekedar teori.
Butuh pengorbanan dan perjuangan. Tapi tak ada yang tak mungkin jika kita jalani sepenuh hati demi mengharap ridho ilahi.
Allahummarhamnaaa bil Qur'an....
