Dalam kondisi Pandemi yang tak kunjung mereda seperti saat ini, kita dituntut untuk memperkuat imunitas tubuh kita agar virus-virus yang ingin menyerang bisa terpental.
HAPPY IS THE KEY
Ya, banyak yang bilang bahagia itu adalah kunci kita bisa sehat. Meskipun kita merasa sudah menjaga protokol, makan-minuman yang sehat dan olahraga. Namun, jika hati tidak bahagia kita akan sangat mudah terjangkit penyakit.
Dan ya, benar saja.
Jadi, ceritanya saya ini habis batuk-batuk hingga saya kesulitan untuk bernafas. Sesak. Padahal, saya tidak pernah ada riwayat sesak seperti ini.
Ditengah kondisi begini pasti pertama yang difikirkan adalah CORONA. Betul?
Saya sempat terpikir begitu, namun saya tetap berusaha tenang dan yakin akan sembuh.
Alhamdulillah dengan beberapa ikhtiar dalam 1 hari sudah membaik dan bisa beraktivitas seperti biasa.
Saya menyadari sebelum saya sakit seperti itu saya memang sedang menyimpan rasa sakit hati dan perasaan negatif lainnya.
Betul, saat itu saya sedang tidak bahagia.
Namun, banyak orang yang salah paham dengan kata bahagia.
Sering saya dengar begini, bahkan diri sendiri juga pernah bilang kalimat semacam ini:
"Yang penting bahagia"
"Yang penting happy"
"Yang penting senang"
Namun, tidak jarang manusia melakukan apa saja untuk membuat dirinya BAHAGIA tanpa peduli apa aturan yang telah ia langgar.
Contohnya,
Banyak orang melanggar aturan protokol COVID agar dia bisa happy.
Banyak orang melanggar aturan dalam agama agar dia bisa happy.
Dan sejenisnya.
Lalu, apakah mereka benar-benar akan bahagia? Saya rasa tidak.
Sebenernya, apa sih bahagia itu ?
Kalau menurut KBBI ba·ha·gia adalah sebuah kata benda yang artinya adalah keadaan atau perasaan senang dan tentera
m (bebas dari segala yang menyusahkan).
Jika definisi bahagia yang kita pakai dalam hidup kita seperti yang tertera di KBBI tersebut, maka kita hidup bahagianya hanya hitungan jam bahkan detik saja. Karena kita tidak akan bisa bebas dari segala yang menyusahkan.
Kita hanya akan bisa bebas dari segala yang menyusahkan diri kita di surga saja.
Jadi, perlu kita tambah definisi tadi dengan bebas dari penyakit hati. Seperti marah, dendam, dengki, prasangka buruk, dll. Bersihkan dan bebaskan hati kita dari perasaan-perasaan tadi dengan menerima dan memaafkan.
Memang hal ini tidak mudah, tapi bukan sesuatu yang mustahil.
Bagaimana caranya agar kita bisa menerima dan memaafkan ?
Berusaha mencari seribu satu alasan kita harus menerimanya.
Jangan terlalu fokus dengan perasaan itu.
Nikmati saja dengan nikmat apa yang ada meski menurut kita cuma sedikit.
Ah, ribet sekali ingin bahagia saja!
Gak papa...
Sejatinya, hidup kita ini adalah perlombaan. Kita ini berlomba-lomba dalam kebaikan.Kita ini diuji kualitas diri kita oleh tuhan.
Jadi , berbahagialah di dunia tanpa rasa egois agar kita bisa bahagia selamanya di Surga ! :)
-Novy Yas-


Ditampar dengan artikel kakak nih, bahagia itu memang sifatnya sementara ya. dia gak abadi, perlu usaha seperti yang kakak sebutkan diatas, yaitu membersihkan diri dari segala emosi negatif dan penyakit hati. baru bisa bahagia. ini yang agak sulit, karena saya pun masih menyimpan beberapa emosi negatif yang meski tau berefek buruk pada kesehatan tapi masih kesulitan gimana biar bisa release and be happy.
ReplyDelete