Perempuan tidak sama dengan Laki-Laki



(tulisan ini bersumber dari kajian Ust Adi Hidayat dalam kelas Ibu Rumah Tangga, resume ditulis sendiri tanpa copas dari artikel manapun) 

Dalam rangka hari perempuan 8 Maret hari ini saya akan mempublish tulisan saya yang sudah lama bersarang di draft. Semoga bermanfaat ya. 

Kali ini yang saya bahas tentang peran wanita.  Karena yang saya dengar banyak wanita yang ingin disamakan oleh laki-laki. 
Katanya kesetaraan gender.

Bagaimanapun mau disamakan ya tidak bisa.  Karena dari bentukannya saja sudah beda kan?  Hehehe

Keterangan Al Qur'an
Surat ke 2 ayat 35

Kisah Adam dan Hawa ini terkait erat dengan kondisi ibu saat ini.

Adam ialah laki-laki. Kalau pasangan itu sifatnya pasti berbeda, tidak sama.
Berarti, pasangannya mesti perempuan.

Maka, yang disebutkan dalam quran surat albaqoroh ayat 35.

Perhatikan kalimatnya:
"qul yaa aadamuskun anta, wazaujukal jannah"

Nah, yang disebutkan itu adalah pasangan. Kata pasangan bukan dalam bentuk nama seseorang. Tapi, kata disini menyebutkan fungsi. 

Lalu, siapakah pasangan adam ?
Ada di surat An Nisaa' ayat ke 1

Zauj itu kalau dalam bahasa Inggris, Zauj itu sama dengan couple. Yang artinya 2 hal yang saling melengkapi. Jadi, kalau 1 enggak ada menjadi tidak sempurna. 

Misalnya saja sendal atau sepatu. Pasti sendal atau sepatu bagian kanan dan kiri bentuknya berbeda bukan ? 

Nah, jika yang kanan dan kiri ini disatukan pasti yang memakai jadi enak jalannya. Berbeda jika kita memakai sendal atau sepatu yang dua duanya kanan atau dua duanya kiri. Pasti dipakai untuk berjalan menjadi tidak nyaman .

Maka dari itu kenapa Allah menyebutnya Zauj. Karena Allah menciptakan perangkat yang berbeda pada laki - laki dan perempuan.

Dari segi penampilan saja laki-laki dan perempuan itu Allah ciptakan berbeda. 
Jadi, jika ada laki-laki yang mencoba menjadi perempuan dan perempuan mencoba menjadi seperti laki-laki itu gak akan enak. Dari suaranya saja sudah gak enak.

Seperti halnya kita memakaikan kaki kanan kita dengan sendal bagian kiri. Gak akan enak !

Begitulah seseorang yang menyalahi kodratnya. Tidak akan nyaman dalam kehidupan.

Jika kita memakai sendal, kanan dan kiri ingin dominan . Ingin terus maju, jalan pun kita akan susah bukan ?
Jadi, adakalanya yang kanan didepan yang kiri dibelakang. Bergantian.

Jadi, sebuah pasangan itu tidak bisa disamakan. Semuanya harus sama. Perannya harus sama. Yang A ingin begini yang B juga harus sama.

Pasangan itu sifatnya saling menyempurnakan. Bukan semuanya harus dominan atau disamakan.




Mustahil jika perempuan ingin disamakan keadaannya dengan laki-laki.

Mustahil beban kerja perempuan dan laki-laki harus sama, warisannya harus sama, segalanya harus disamakan. Mustahil, sebagaimana kita pakai sendal tapi kiri semua atau kanan semua. Gak akan nyaman !

Allah menciptakan kondisi fisik laki-laki dan perempuan berbeda karena mempunyai fungsi yang berbeda juga.

Dan yang paling hebat itu adalah Allah menerangkan semua itu dengan bahasa yang indah dalam Al Quran.

Allah menggunakan kata Zauj itu seakan Allah memberikan kesan bahwa tidak ada yang dominan dalam keistimewaan ini.

Jadi, Allah tuh ingin mengatakan kepada kita bahwa laki-laki itu istimewa. Allah memberikan perangkat (perlengkapan) yang istimewa kepada laki-laki yang tidak dimiliki oleh perempuan. Begitu juga sebaliknya.

Allah ingin mengatakan kepada kita bahwa perempuan itu istimewa. Allah memberikan perangkat (perlengkapan) yang istimewa kepada perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki.

Jadi, antara laki-laki dan perempuan jangan saling meremehkan.

Allah tuh ingin bilang sama kita bahwa jangan pernah remehkan perempuan, juga jangan remehkan laki-laki.

Karena Allah itu Maha Adil. Semuanya Allah kasih sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan Allah yang paling pintar memahami apa yang kita tidak ketahui.

Laki - laki dan perempuan itu memiliki peran yang berbeda. 

Laki-laki punya design tubuh yang berbeda dengan perempuan. Sifat dan aktivitasnya Allah berikan dengan tujuan yang berbeda.

Jadi, mustahil keadaan perempuan itu minta disamakan dengan laki-laki. Beban kerjanya harus sama. Mustahil.

Dulu, sebelum datangnya Islam. Perempuan itu dianggap tidak ada nilainya. Nol.

Dulu, sebelum datangnya Islam. Bayi perempuan itu dikubur hidup-hidup.

Ada kepercayaan dimana kalau ibadah itu perempuan tidak dinilai. Misal, ada 1000 perempuan tapi tidak ada 1 laki-laki pun tidak akan berlangsung ibadahnya.

Ada kepercayaan bahwa wanita itu agennya iblis. Karena wanita telah menggoda Adam sehingga diusir dari Surga. 

Hanya di Islam Allah memberikan penekanan yang sangat kuat bahwa tidak sama perempuan dengan laki-laki. 

Perempuan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki. Begitupun sebaliknya.

Maka, Islam mengangkat derajat perempuan dari kepercayaan orang-orang Jahiliyah itu tadi.

Yuk mampir ke surat ke 3 Ali Imran ayat 35- 36

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan Imran menikah dengan Hana. Kemudian, Hana mengandung. Dalam kandungannya itu Hana memohon , berdoa kepada Allah supaya bisa melahirkan anak laki-laki. 

Karena pandangan masyarakat di masa itu adalah laki-laki lebih utama dari perempuan. Laki-laki lebih baik dari perempuan. Dan ada berita bahwa akan ada perempuan shalihah yang melahirkan seorang bayi yang kelak akan menjadi Nabi. 

Nabi itu pasti laki-laki, tidak ada yang perempuan. Kenapa?

Karena tugas seorang Nabi itu lebih  membutuhkan tampilan fisik laki-laki dibandingkan perempuan.

Disini Allah bukan ingin merendahkan perempuan. Tapi, memang bukan tugasnya.


Lanjut kepada Hana.

Kemudian Hana melahirkan. Tapi, ternyata yang ia lahirkan adalah bayi perempuan. Bukan bayi laki-laki yang ia doakan selama ini. 

Ada perasaan dalam hatinya, Ya Allah kok yang lahir perempuan, saya kan mintanya laki-laki (bahasa kitanya begitulah ya)

Lalu, Allah berfirman bahwa Allah itu lebih tahu apa keistimewaan yang dimiliki perempuan. Perempuan itu tidak sama dengan laki-laki. Perempuan itu punya keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki.

Maka, bayi itu diberilah nama Maryam.
Ternyata , Maryam itu lebih baik, lebih shalihah dari Ibundanya. Dari situlah terlahir Nabi Isa. 

Ayat ini maksudnya adalah ketika Allah menciptakan perempuan  Allah sudah memberikan bekal-bekal kehidupan .

Jadi, misalkan ibu terlahir ke dunia atau anak ibu yang lahir ternyata perempuan. Hal tersebut adalah sesuatu yang sangat istimewa. Berbahagialah !

Allah menunjukkan keutamaan dan keistimewaannya.  Dan keistimewaan ini oleh Allah ditempatkan dengan 2 hal yang paling utama. 

Yang perlu diingat adalah keistimewaan ini adalah ditujukan untuk 2 fungsi utama.

Tujuannya adalah sbb

1. Untuk mengumpulkan Pahala ke Surga
Bagi perempuan yang memudahkan ia ke Surga.

Perlu kita ingat, jika kita bicara soal "pahala"  itu ukurannya akhirat bukan dunia.

Ibu jangan mengukur urusan akhirat dengan dunia itu terlampau kecil. 


2. Menunjukkan identitas perempuan yang tidak sama dengan laki-laki

Keistimewaan ini juga menunjukkan identitas perempuan  sebagai bagian dari identitas perempuan yang membedakannya dari laki-laki. 

Jadi, jika ibu ingin diistimewakan , ingin dibanggakan (dihadapan Allah) sebagai perempuan. Maka, tampakkanlah dan maksimalkanlah keistimewaan ini. 

Apa keistimewaan wanita ?

Kalau seorang ibu tidak tahu keistimewaan ini maka dia akan kehilangan kesempatan meraih banyak pahala dalam setiap aktivitasnya.

Allah memberikan perempuan keistimewaab adalah untuk meraih banyak pahala. Jadi, ketika ibu meninggalkan dunia yang hanya sebentar ini.

Aktivitas apa yang memiliki peluang banyak pahala ?

Sayangnya, banyak perempuan kekinian yang meninggalkan keistimewaan ini dan lebih memilih yang lain karena didorong oleh keadaan-keadaan yang dibujuk oleh setan. Kata setan 

"jangan tekuni yang ini, minimal kurangi yang ini, yang kamu kejar tuh yang itu bukan yang ini , kalau kamu kejar yang ini kamu nanti akan hebat, kamu akan jadi wanita karir, kamu akan dibanggakan, status kamu naik, kamu akan terkenal dan sebagainya" 

Sehingga ibu melupakan yang ini. Memang, di dunia terasa indah. Tapi, saat pulang nantu akan ada yang hilang.  Begitu meninggal nanti baru terasa.


Hadits riwayat At Tirmidzi  nomor 1897
Dan HR Al Bukhori dalam kitab Al Adabul Mufrod.

(hadits ya rasulallah siapa yg paling aku utamakan saya berbuat baik? Ibu, ibu, ibu)

Jadi, yang disebutkan bukan nisaa', bukan zauj lagi. Tapi, ibu.

Profesi ibu adalah profesi terbaik bagi seorang wanita.


Jadi perempuan itu adalah ketentuan.  Takdir yang tidak bisa ditolak.  Dan menikah itu adalah pilihan.

Nah, setelah menikah nanti akan banyak profesi yang ditawarkan. Jadi ini.. Jadi itu..

Nabi mengatakan bahwa profesi "terhormat" ,"terbaik" dan "terbanyak" pahalanya bagi wanita yang sudah menikah  adalah menjadi "Ibu".

3 kali disebutkan profesi seorang ibu lebih dibandingkan yang lain.

(bersambung.....) 

Kesimpulan:
Wanita memang tidak bisa disamakan dengan laki-laki. Biasanya,  kesetaraan gender disini  disuarakan oleh kaum feminis yang ingin membebaskan wanita untuk melakukan hal sesuka hati.  Padahal,  Islam sudah sangat memuliakan dan menjaga kaum wanita. 

Happy Women's Day!!! 

1 Comments

  1. Setuju banget dengan artikel ini,, sangat bermanfaat

    ReplyDelete
Previous Post Next Post