Bab : Prinsip mengajar Quran
1. Dimulai dari yang paling mudah.
Belajar Al Qur'an sama dengan belajar bahasa Asing. Jadi, konsepnya bertahap.
Yang paling mudah bagi si anak,
Lalu ke yang mudah,
Lanjut ke yang susah,
Baru lanjut lagi ke yang paling susah bagi si anak.
Lalu ke yang mudah,
Lanjut ke yang susah,
Baru lanjut lagi ke yang paling susah bagi si anak.
Berlaku untuk semua pokok bahasan semua sesi pembelajaran. Misal, pilih huruf yang berharakat fathah dulu sebelum belajatlr kasroh, belajar huruf Ha dulu kalau huruf Ja susah disebutkan. Dsb.
Ini selaras dengan sabda Rasulullaah SAW
"Tidaklah nabi berikan pilihan kecuali beliau memilih yg lebih mudah diantara keduanya selama bukan perbuatan dosa"
HR. Bukhori, Muslim, dan Musnad imam ahmad
HR. Bukhori, Muslim, dan Musnad imam ahmad
Jadi, mencari yang termudah dulu itu dianjurkan dalam islam selama bukan maksiat.
Misal anak tetap dipaksa dengan sesuatu yang langsung sulit baginya dia akan mogok ngaji,males, karena merasa ngaji itu susah.
Ternyata memang tidak ada hukum wajib urutan hijaiyah itu. Boleh acak. Itu hanya karya para ulama. Dan yang kita biasa pakai di Indonesia adalah hanya 1 dari sekian banyak urutan hijaiyah didunia.
Jika mau menyetarakan dengan anak-anak diluar sana bisa disusul. In syaa Allah.
Jika mau menyetarakan dengan anak-anak diluar sana bisa disusul. In syaa Allah.
Ini poin yang sangat berarti " MENGAJI ITU MUDAH" karena tujuan akhirnya adalah membuat anak mencintai Al Quran bukan malah menjauhinya.
Jadi bukan sekedar bisa baca, tapi cinta.
2. Dimulai dari yang anak sekiranya sudah mampu
Kita harus bisa menyesuaikan materi dengan kemampuan anak sebagaimana hadits nabi
Berbicaralah dgn manusia sesuai kadar akalnya.
Jadi, dalam pengajaran baca Al Quran misal pemilihan huruf yang berpeluang susah kita akhirkan
3. Yang susah dipermudah
Permudah cara mengajarkan dan menyampaikan materi sehingga anak merasa nyaman. Kita harus mencari strategi agar anak paham. Bukan memaksa mereka menelan mentah-mentah yang ujungnya si anak muntah. Hehe.
Apalagi pakai ancaman fisik dicubit, dijewer, dll.
Apalagi pakai ancaman fisik dicubit, dijewer, dll.
4. Yang lebih susah dibuat menyenangkan.
Misal, diberi terapi membuatnya merasa nyaman tidak pernah disalahkan. Kita hanya menyuruhnya untuk menirukan cara pengucapan, disemangati, cium, peluk, seraya berdoa agar hal itu meresap kedalam hati dan membekas hingga dewasa
Rasulullah saw bersabda,
"Mudahkanlah, dan jangan dipersusah, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari " HR. Bukhori
5. Lihat dan hargai proses usahanya. Jangan fokus pada hasilnya
6. Perbanyak reward, minimalkan punishment.
Kita berupaya mengondisikan anak agar mereka mendapatkan reward. Bukan malah menggiring mereka atau malah mereka senang jika mendapat hukuman. Kuncinya, sabar ekstra.
Reward nya ada 2 .
Reward maknawi, misal ungkapan barokalloh, semoga Allah menambahkan ilmu kepadamu, dll. Mungkin sederhana banget. Tapi, makna ungkapan doa ini sangat mendalam.
Ajarkan anak ungkapan yang enak didengar dan tidak miskin doa.
Reward materi, disesuaikan dengan usaha anak, tantangan, budget ortu, dan lebih memperhatikan aspek kebermanfaatan dan edukasi. Jangan sampai berlebihan bahkan pemborosan.
7. Yang penting setiap hari bersama Al Quran.
Boleh pasang target yang tinggi. Tapi, pasrahkan target itu pada Allah. Dan yang penting sudah bersama Alquran hari ini. Tanamkan pada anak bahwa belajar Al Qur'an tidak ada liburnya, meskipun di TPA libur.
8. Mencintai Al Quran lebih penting daripada pandai membaca Al Qur'an.
Agar meskipun sudah pintar membaca, kelak dewasa benar-benar ada cinta yang menggelora.
Karena siapapun yang cinta mati terhadap sesuatu akan gelisah kecuali bersamanya. Langgeng bersama Al Quran.
9. Kegiatan bersama Al Quran dikenang indah dalam memori anak saat dewasa. Hingga menikah, punya anak, sampai tua.
Aamiin.
****
Artikel ini adalah resume saya dari sebuah buku langka Alhamdulillah balitaku khatam quran. Penulisnya ialah ibu dari anak-anak pecinta Al Quran, Dr. Sarmini,Lc.
Semoga bermanfaat
Tags:
Pengasuhan Anak
