Kendala dan solusi dalam mengajar Al Qur'an pada anak
Kendala dari :
A. ORANG TUA SEBAGAI PENGAJAR :
1. Tidak sabar dan telaten
Mengajak anak mengaji tidak selamanya mulus. Banyak hal yang membuat emosi terpancing. Kalau dipikirkan apa dosa mereka? Kita menganggap materi itu mudah padahal bagi mereka susah. Padahal parameter mudah antara orang tua dan anak berbeda.
Disinilah perlu amunisi kesabaran dan energi lebih banyak. Karena kalau orang tua sudah terpancing emosinya,maka suasana KBM tidak kondusif lagi. Sehingga penyerapan materi tidak maksimal.
Kendala dari :
A. ORANG TUA SEBAGAI PENGAJAR :
1. Tidak sabar dan telaten
Mengajak anak mengaji tidak selamanya mulus. Banyak hal yang membuat emosi terpancing. Kalau dipikirkan apa dosa mereka? Kita menganggap materi itu mudah padahal bagi mereka susah. Padahal parameter mudah antara orang tua dan anak berbeda.
Disinilah perlu amunisi kesabaran dan energi lebih banyak. Karena kalau orang tua sudah terpancing emosinya,maka suasana KBM tidak kondusif lagi. Sehingga penyerapan materi tidak maksimal.
2. Mudah Marah.
Ciri-ciri orang yang tidak sabar dan marah. Misal, nada suara mulai naik, ada yang ditahan dan di tekan saat bicara, tatapan mata sudah tidak ramah, dan bibir susah senyum.
Ya Allah, padahal anak-anak itu begitu bersih dan suci hatinya. Lebih bersih dari pada kita. Tidakkah kita ingat ketika belum memiliki anak dengan khusyuk kita meminta agar diberi anak? Namun, ketika Allah memberikan amanah anak, apakah kita menjaganya dengan baik atau justru memperlakukannya dengam semena-mena? Na'udzubillah.
3. Terlalu kaku dengan target
Itu hanya akan menjebak kita dalam kesempitan waktu. Bahkan, sempit hati dan fikiran. Hal ini akan mempengaruhi cara kita bersikap saat mendampingi anak-anak. Mereka akan tertekan..
Tapi, kalau fikiran dan hati kita lapang, kita tidak akan terpengaruh dengan mepetnya waktu. Misalkan . Tentu kita boleh membuat target dan mengikhtiarkannya. Selanjutnya, bertawakkal kepada Allah. Sertakan doa-doa. In syaa Allah akan dieliminasi.
Solusi yang bisa anda coba:
√ Libur
Ini cukup mujarab. Meliburkan diri beberapa hari agar rileks, nyaman, dan tidak ada sisa kemarahan yang kemarin. In syaa Allah, seiring dengan jam terbang mengajar akan semakin jarang mengambil cuti dadakan.
√ Berdoa bersama anak sebanyak-banyaknya dan sejujur-jujurnya.
Ini paling ampuh. Dudukan anak bersamaa ketika berdoa.
Melalui doa, kita menanamkan pada anak bahwa sukses itu hanya akan terjadi atas izin Allah. Sertai juga dalam kesyukuran agar tidaj tumbuh sifat ujub. Solusi ini juga akan sangat berkesan, meraka akan semakin percaya dengan kekuatan doa.
√ Sholat Hajat
B. KENDALA ANAK
1. Menolak ngaji
Solusi: Cari tahu alasannya. Salah satu caranya adalah menanyakannya langsung. Kenapa? In syaa Allah, sepanjang kita bisa memberi penjelasan yang bisa diterima anak, semuanya akan baik-baik saja.
2 Masih mau bermain
Solusi: Beri kesempatan tetapi batasi. Jangan langsung larang, atau pakai cara-cara instan. Buat kesepakatan. Hal ini berfungsi untuk menstabilkan emosi anak. Biarkan anak dengan sendirinya me-manage emosi dalam dirinya antara ingin melanjutkan bermain atau mengambil keputusan mengaji. Kita hanya memaparkan bahwa hidup itu harus diatur. Kadang main, kadang ngaji, kadang tidur. Gak bisa hidup main terus, ngaji terus, tidur terus. Ini sangat bermanfaat untuk masa depannya, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan stimulan kecerdasan emosiaonal nya.
3. Banyak kompromi
Solusi: bantu biasakan anak mencintai kewajiban sejak kecil. Agar memandang kewajiban dengan cinta bukan beban.
C. FASILITAS / SARANA
Jika yang dinamakan fasilitas adalah segala sarana yang memudahkan dan menyamankan, maka standarnya adalah nisbi. Tergantung pada siapa yang membuat standarnya.
Kalau mengingat para ulama zaman dahulu, perjalanan nya jauh untuk menuntut ilmu walau satu kalimat saja, sarananya terbatas, makan seadanya, tanpa bangku, menulis harus celup tinta dulu, tanpa fasilitas AC. Namun, semua itu dapat mengantarkan mereka jadi ulama yang luar biasa, maa syaa Allah.
Sarana adalah hal terakhir. Terpenting adalah kekuatan niat dan konsisten. Cukuplah bergantung pada Allah, bukan sarana. Maka, semua akan mudah. Jadi, sarana hanyalah penunjang.
*****
Selamat mencoba !
Semoga sukses
Referensi;
Dr.Sarmini,Lc (Buku Alhamdulillah balitaku khatam Qur'an
Ciri-ciri orang yang tidak sabar dan marah. Misal, nada suara mulai naik, ada yang ditahan dan di tekan saat bicara, tatapan mata sudah tidak ramah, dan bibir susah senyum.
Ya Allah, padahal anak-anak itu begitu bersih dan suci hatinya. Lebih bersih dari pada kita. Tidakkah kita ingat ketika belum memiliki anak dengan khusyuk kita meminta agar diberi anak? Namun, ketika Allah memberikan amanah anak, apakah kita menjaganya dengan baik atau justru memperlakukannya dengam semena-mena? Na'udzubillah.
3. Terlalu kaku dengan target
Itu hanya akan menjebak kita dalam kesempitan waktu. Bahkan, sempit hati dan fikiran. Hal ini akan mempengaruhi cara kita bersikap saat mendampingi anak-anak. Mereka akan tertekan..
Tapi, kalau fikiran dan hati kita lapang, kita tidak akan terpengaruh dengan mepetnya waktu. Misalkan . Tentu kita boleh membuat target dan mengikhtiarkannya. Selanjutnya, bertawakkal kepada Allah. Sertakan doa-doa. In syaa Allah akan dieliminasi.
Solusi yang bisa anda coba:
√ Libur
Ini cukup mujarab. Meliburkan diri beberapa hari agar rileks, nyaman, dan tidak ada sisa kemarahan yang kemarin. In syaa Allah, seiring dengan jam terbang mengajar akan semakin jarang mengambil cuti dadakan.
√ Berdoa bersama anak sebanyak-banyaknya dan sejujur-jujurnya.
Ini paling ampuh. Dudukan anak bersamaa ketika berdoa.
Melalui doa, kita menanamkan pada anak bahwa sukses itu hanya akan terjadi atas izin Allah. Sertai juga dalam kesyukuran agar tidaj tumbuh sifat ujub. Solusi ini juga akan sangat berkesan, meraka akan semakin percaya dengan kekuatan doa.
√ Sholat Hajat
B. KENDALA ANAK
1. Menolak ngaji
Solusi: Cari tahu alasannya. Salah satu caranya adalah menanyakannya langsung. Kenapa? In syaa Allah, sepanjang kita bisa memberi penjelasan yang bisa diterima anak, semuanya akan baik-baik saja.
2 Masih mau bermain
Solusi: Beri kesempatan tetapi batasi. Jangan langsung larang, atau pakai cara-cara instan. Buat kesepakatan. Hal ini berfungsi untuk menstabilkan emosi anak. Biarkan anak dengan sendirinya me-manage emosi dalam dirinya antara ingin melanjutkan bermain atau mengambil keputusan mengaji. Kita hanya memaparkan bahwa hidup itu harus diatur. Kadang main, kadang ngaji, kadang tidur. Gak bisa hidup main terus, ngaji terus, tidur terus. Ini sangat bermanfaat untuk masa depannya, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan stimulan kecerdasan emosiaonal nya.
3. Banyak kompromi
Solusi: bantu biasakan anak mencintai kewajiban sejak kecil. Agar memandang kewajiban dengan cinta bukan beban.
C. FASILITAS / SARANA
Jika yang dinamakan fasilitas adalah segala sarana yang memudahkan dan menyamankan, maka standarnya adalah nisbi. Tergantung pada siapa yang membuat standarnya.
Kalau mengingat para ulama zaman dahulu, perjalanan nya jauh untuk menuntut ilmu walau satu kalimat saja, sarananya terbatas, makan seadanya, tanpa bangku, menulis harus celup tinta dulu, tanpa fasilitas AC. Namun, semua itu dapat mengantarkan mereka jadi ulama yang luar biasa, maa syaa Allah.
Sarana adalah hal terakhir. Terpenting adalah kekuatan niat dan konsisten. Cukuplah bergantung pada Allah, bukan sarana. Maka, semua akan mudah. Jadi, sarana hanyalah penunjang.
*****
Selamat mencoba !
Semoga sukses
Referensi;
Dr.Sarmini,Lc (Buku Alhamdulillah balitaku khatam Qur'an
Tags:
Pengasuhan Anak
