Kaitan Masa Lalu Dengan Mendidik Anak #NgobrolProduktif

Membangun Peradaban dari dalam Rumah 

Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5 
Resume Tanya Jawab Materi (6 Februari 2018)
Peresume: Puspita Ratnasari 
Fasilitator: Linda Dwihapsari

1. Tanya
➡️Else
Bagaimana tipsnya untuk benar-benar menghilangkan bayang-bayang masa lalu "sikap seorang ayah" ?
Saya sudah memaafkan Beliau sepenuh hati, tapi kadang masih suka muncul di dalam pikiran.

Jawab
➡️Linda: Tipsnya harus terus melatih diri untuk melupakan, walau tak dipungkiri terkadang alam bawah sadar masih terperangkap masa lalu. Ini prosesnya bisa dibilang sepanjang hayat ☺

Teruslah bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Pupuk hati dengan kasih sayang, selalu mohon petunjuk yang Maha Pengasih agar mbk diberikan ketenangan dan kemantapan hati.

2. Tanya
➡️Asis Tamamah
Bagaimana kalau komunitas-komunitas yang ada di sekitar rumah kita kurang nyaman/tidak cocok bagi keluarga kita,bagaimana kah sikap yang harus kita ambil?

Jawab
➡Linda: Membangun peradaban dimulai dari rumah, jadi sebelum melangkah keluar kuatkan dulu pondasi di dalam rumah. Visi misi, nilai - nilai dalam keluarga.

Harapannya jika keluarga sudah kuat kita tidak akan mudah terpengaruh komunitas yang tidak nyaman atau tidak sesuai dengan value keluarga kita.

Sikap yang diambil mbak dan pasangan silakan menguatkan pondasi keluarga sesuai visi misi dan value yang disepakati 🤗

Seperti kata Pak Dodik
*Bersungguh - sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu.*

3. Tanya
➡️Nurhalimah: Jadi gini kebetulan didikan bapa saya itu agak keras dan temperamen, sebenernya mungkin tujuan baik ya, khawatir tapi cara penyampaian itu kadang dengan bahasa kasar, contoh kalau saya telat pulang dan khawatir, sempat beliau bilang "gak usah pulang sekalian bikin khawatir org tua, mati aja sekalian atau sempat gak punya otak". Kadang saya suka bantah, saya gak punya otak, yang punya otak situ doank, yang lain gak punya dan langsung banting pintu masuk ke kamar.

Bagaimana cara saya sebagai anak baiknya? sebenarnya saya tahu maksud dan tujuan beliau khawatir tapi saya gak suka dengan omongan yang terlalu kasar dan belum masuk pintu gerbang sudah di ocehin gitu. Saya sadar sebagai anak pasti banyak salahnya.

Jawab
➡️Linda: Setiap orangtua terutama seorang bapak itu memiliki jiwa melindungi terutama untuk anak gadisnya. Masalahnya saat mengungkapkan kekhawatiran itu terkadang terlampau keras.

Yang pertama mbk Nur lakukan adalah, cek kembali mengapa bapak marah? Apakah mbk sudah menginfokan kalau pulang terlambat?
Coba bangun komunikasi produktif dengan bapak, kalau bapak keras, hadapi dengan lembut. Mbak bisa mulai melakukan hal yang menunjukkan mbk tetap hormat misal buatkan kopi, siapkan koran di meja bapak, dan tuliskan jadwal kegiatan mbk tempel di pintu. Sosialisasikan ke seluruh keluarga.

Tujuannya agar anggota keluarga tahu aktivitas mbak.
Maafkan bapak setiap mbk mau tidur dan terus berdoa agar Allah melembutkan hati bapak.😇

Terus raihlah ridho kedua orangtua, jangan sampai timbul sesal saat mereka tiada..


4. Tanya
➡️Dwijayanti: Di jaman sekarang banyak pasangan suami istri bekerja yang menitipkan anak-anak mereka kepada mba pengasuh dan atau kepada nenek kakeknya.
Untuk hal itu, bagaimana cara menyiasatinya agar tetap bisa membangun peradaban sesuai/sejalan dgn visi misi keluarga yg telah kita tentukan? karena interaksi anak-anak biasanya akan lebih sering bersama pengasuh & atau nenek kakeknya.

Jawab
➡️ Linda: Ibu dan ayah yang bekerja bukan berarti tidak bisa membangun peradaban sesuai visi misi keluarga.

Yang penting untuk dipahami adalah *quality time* yang dibangun dengan ananda dan optimalisasi peran ibu sebagai madrasah bagi anak.

Ibu dan ayah yang bekerja tetap bisa menyusun kurikulum teknis pendidikan ataupun perkembangan ananda, jadikan *asisten sebagai pelaksana tugas harian* dari keluarga. Ajarkan asisten tentang value keluarga mbak Dwijayanti, jangan lupa sosialisasikan juga kepada kakek nenek agar arah pola asuh dan pendidikan sejalan.

Ayah, Ibu, kakek nenek dan asisten dapat menjadi tim yang solid dalam memberikan pendidikan dan pengasuhan bagi ananda. 
Keluarga juga memegang peranan penting dalam mengontrol apa-apa yang dipelajari si anak, juga perkembangan ananda. Luruskan apabila ada kesalahan asisten dalam mendidik anak dan pantau perkembangan ananda sesuai dengan milestonenya.

5. Tanya
➡️Prilly: Bagaimana caranya menyatukan kembali visi misi keluarga khususnya dalam pendidikan anak? Karena setelah menikah dan berkeluarga, visi misi pra nikah terkadang tertutupi dengan karakter yang kuat.

Jawab
➡ Linda: Seperti kata Pak Dodik saat saya ikut seminar Training Family Strategic Planning.
Berikut diantaranya:
💐Mbak bisa saling berkomunikasi produktif dengan pasangan. Buat '' family forum'' seperti saat nge teh bareng dalam suasana santai.
💐Rumuskan kembali tujuan dari keluarga yang dijabarkan dalam visi misi.
💐Tentukan juga golden rules dan value yang ingin digunakan. Tak lupa libatkan anak juga.

Jangan sampai justru setelah menikah..kita kehilangan arah..ibarat kapal butuh tempat yang jadi tujuan dan suami adalah nahkodanya.

💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
*Tazkiyatunnafs*

Oleh: Septi Peni W.

Buat para bunda yang beragama Islam, ada panduan di Alqur'an sebenarnya untuk "berdamai dengan masa lalu"yg disebut tazkiyatunnafs sbb:

Tazkiyatunnafs adalah bahasa alQuran untuk mentherapy secara alamiah dan fitriyah apa apa yang menyebabkan kita berperilaku buruk. Tiada cara yang baik dan mengakar kecuali memperbaiki jiwa sebelum memperbaiki fikiran dan amal.

Belum pernah ada surat di dalam alQuran dimana Allah bersumpah begitu banyak, sampai 11 kali, kecuali untuk pensucian jiwa "sungguh beruntung mereka yang mensucikan jiwanya" (surat asSyams).

Warisan pengasuhan masa lalu dalam dunia psikolog sering disebut Inner Child, kadang sehebat apapun ilmu parenting atau psikologi yang kita pahami, tetap saja di tataran praktis yang kita pakai adalah apa yang pernah kita alami ketika kecil. Misalnya, kita tahu membentak dan menjewer itu buruk, namun ketika kekesalan memuncak maka hilang semua pemahaman, yang ada lagi lagi membentak dan menjewer. 

Ada terapinya untuk ini, namun sebaiknya kita menggunakan jalur alamiah dan syar'i yaitu Tazkiyatunnafs, atau pensucian jiwa. Ini perlu waktu, perlu momen, perlu keberanian utk keluar dari zona nyaman dan instan.

AlQuran juga mengingatkan bahwa sebelum ta'lim maka penting untuk tazkiyah lebih dulu. Dalam prakteknya paralel saja, karena begitu kita berniat sungguh2 mendidk anak sesuai fitrahnya maka sesungguhnya kita sedang tanpa sadar mengembalikan fitrah kita atau sedang tazkiyatunnafs

Dalam buku tarbiyah Ruhiyah, pensucian jiwa itu bisa dilakukan dengan 5 M
1. Mu'ahadah -mengingat ingat kembali perjanjian kita kepada Allah. Baik syahadah, maksud penciptaan, misi pernikahan, doa doa ketika ingin dikaruniai anak, menyadari potensi2 fitrah dstnya

2. Muroqobah - mendekat kepada Allah agar diberikan qoulan sadida, yaitu ucapan dan tutur yang indah berkesan mendalam, idea dan gagasan yang bernas dalam mendidik, sikap dan tindakan yang pantas diteladani. Allahlah pada hakekatnya Murobby anak anak kita, karena Allahlah yang memahami fitrah anak anak kita. Maka kedekatan dengan Allah adalah agar hikmah hikmah mendidik langsung diberikan Allah untuk anak anak kita melalui diri kita.

3. Muhasabah - mengevaluasi terus menerus agar semakin sempurna dan sejalan dengan fitrah dan kitabullah, bukan obsesi nafsu dan orientasi materialisme

4. Mu'aqobah - menghukum diri jika tidak konsisten dengan hukuman yang membuat semakin bersemangat dan semakin konsisten untuk tidak melalaikan amanah 

5. Mujahadah - sungguh sungguh menempuh jalan sukses (fitrah) dengan konsisten, membuat perencanaan dan ukuran2 nya

(Hasil Diskusi dengan Ustadz Harry Santosa dan Ustdz Aad seputar "tazkiyatunnafs)

💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
DISKUSI BEBAS

➡️Dewi Apito: Kalau saya kok kadang malah bingung.. keluarga ini enaknya diapain ya. Seperti no direction. Dan kayanya ada yg perlu dibetulin. Ada saran kah?

➡️Linda: Perlu kumpul dan ngobrol bareng, diurai apa yang menjadi masalah, dicari bersama solusinya.

💮💮💮

➡️Puspita Ratnasari: Ayah saya sekarang sudah mulai berubah seiring waktu, saya pun begitu, tp jadinya sepertinya tidak ada kedekatan antara kami, kaku.

➡️Nurhalimah: yg sempat saya rasakan mba,,, saya coba jelaskan ke mama, beliau paham n ngerti. tapi untuk bapa lagi dan lagi selalu berakhir dengan emosi. Untuk komunikasi lancar selalu chat saya, sekedar tanya dimana, sudah makan belum, pulang jam brp, pulang hati" masih beliau rasakan. tapi klo udah keras n kasarnya mulai deh marah.

💮💮💮

➡️Siti Nur Faidah: Masa lalu saya juga berat bund...,ayah meninggal sejak umur 7th,sejak kecil gak tinggal sama ortu, tgl dg om tante ( yang kasih sayangnya pun gak seperti ortu, saya memaklumi karena mereka juga punya prioritas) ,jadi saya sprti numpang hidup aja karena perlakuannya dlm rmh berbeda, sprti g smw makanan drmh blh saya makan dll.tp tetap ada titik yg bisa dsyukuri, Alhamdulillah saya mendapatkan rasa aman dari dunia luar yg tidak aman untuk seorang wanita kecil. Skrg Alhamdulillah saya memiliki keluarga baru yg sayang sama saya (suami dan mertua), saya yakin Allah maha baik, dia kan memberi kebaikan terus untuk hambanya yang selalu bisa bersyukur atas ujian, untuk pola asuh banyak hal 2 yang luar biasa yang bisa saya dipelajari dari orang sekitar yang mau share ilmu tntng parenting yang benar, disana saya banyak belajar dan terus belajar dan membaca bagaimana saya seharusnya sebagai ortu. Wlpn namanya hidup gak lepas dr masalah, skrg masalah saya adalah ibu saya yg kadang suka membandingkan saya dg anak orglain yang loyal masalah uang untuk ibunya,kadang kl habis di tlp mood saya buruk, tp itu berlaku untuk bbrp hari, stlh itu saya harus berfkr logis lagi, skrg ada yg ngasih saya kehidupan yg layak saya harus bersyukur dan saya akan berbuat sebaik mngkn untuk khdpn keluarga bru saya. Untuk ibu saya bukan saya g mau ngurusi, tp saya pastikan kebutuhan 2 pntingnya sprti kesehatn saya ikutkan bpjs dan bayar setiap bulan, atau bantu kebutuhan pokok.

➡️Puspita Ratnasari: Kok nangis ya bacanya. 

➡️Siti Nur Faidah: Saya jg masih srg nangis bund, kl ingat jaman dl, menangisnya merasa bersyukur bgt dg khdp skrg.

💮💮💮

➡️Puspita Ratnasari: Sekarang, berusaha sekuat tenaga untuk bisa menahan emosi, sabar dan tenang dalam menghadapi apapun. Kalau lost control, anaklah yang jadi sasaran. 

➡️Linda: Sabar..dilatih terus..saya juga terus belajar.

💮💮💮

➡️Nurhalimah: itu yg sempat saya rasakan mba,,, saya coba jelaskan ke mama,, beliau paham n ngerti. tapi untuk bapa lagi dan lagi selalu berakhir dengan emosi. Untuk komunikasi lancar selalu chat saya,, sekedar tanya dimana, sudah makan belum, pulang jam brp, pulang hati" masih beliau rasakan. tapi klo udah keras n kasarnya mulai deh marah

➡️Linda: Sabar ya...nanti ada masanya bapak melunak kalau kita juga lunak...terus berusaha jangan menyerah.

➡️Nurhalimah: aamiin,, semoga ya bun. 

➡️Linda: Aamiin...terus beri perhatian ke bapak..saat moment tertentu beri kejutan. Semoga membantu.

➡️Nurhalimah: udah saya terapkan bun,,,ketika bapa dinas mlm,, atw di saat hujan deras. saya pasti tanya kembali bun. #saya sadar bun,makin dewasa ini beliau makin menunjukan ke khawatiran.

💮💮💮

➡️Cendani: Baru selesai baca dr atas. Terharu bgt jd inget masa lalu sendiri. Pembelajaran sepanjang hayat sepertinya kesabaran dan keikhlasan itu. 


💮💮💮

➡️Linda: Karena tidak dipungkiri kita punya masa lalu sendiri - sendiri...saya pun juga.
Tips dari teman salah satunya
- jangan menyimpan dendam 
- ikhlas
- memaafkan
Bayangkan orang yang membuat kita sedih dan katakan secara verbal '' aku memaafkanmu''
Keluarkan semua uneg2
-minta bantuan pasangan untuk menolong kita membuang rasa sakit
- berbaring tutup mata dan tarik napas..rileks
- raba seluruh tubuh sambil istighfar 
- ungkapkan bahwa esok sudah berbeda ..kemarin bukan apa - apa.

Semoga bermanfaat

Post a Comment

Previous Post Next Post