STORY FROM MY BF, HIJRAH !
HIJRAH KEDIAMAN
Author: Inten Safitri
Pagi yang cerah , matahari bersinar begitu indah seperti hatiku yang sama cerahnya. Ku lihat bangunan tersusun rapi, hamaparan rerumputan yang hijau yang menyejukan mata. Dan udara segar yang yang menyelimuti suasana disekitar asrama.
Hari ini adalah hari yang sangat aku idam-idamkan. Keadaan yang sangat berbeda dengan tempat tinggalku dulu yang sumpek dan penuh kejenuhan, lingkungannya pun hanya ingin membuatku diam saja dirumah karena bergaul dengan mereka tak membuatku nyaman.
2 tahun bukan waktu yang singkat bagiku untuk bertahan disituasi tersebut.kadang duniaku hanya berkutat dengan gejet karena ada perasaan lebih baik dari pada dunia yang aku llihat waktu itu. terkadang aku menagis sendirian ketika suami tak ada di rumah. mendapatkan kerjaan bagian ship malam suamiku lakukan demi mencukupi kebutuhan kami bertiga. Namun ada satu penguatku untuk tetap tegar dihadapannya, tetap tersenyum melihat tingkah lucunya, dialah sahva anak perempuanku.
***
Badanku lemas tak berdaya setelah memakan makanan dari warung tentangga, suamiku pun sama terkulai lemah disampingku, sedangkan anakku sahva melihat dengan mata yang berbinar tak mengerti dengan keadaan yang kami berdua alami.
Kami berdua keracunan makanan yang sudah basi, entah apa dibenakku saat itu , ingin marah tapi tak bisa karena aku tahu bahwa ini sudah ada dalam rencanaNYA. Ada perasaan bersalah karena kurang kehati- hatianku dalam membeli makanan.
Aku lebih sering membeli daripada memasak karena sahva anak ku masih berusia 6 bulan, sangat aktif butuh ekstra penjagaan dariku. Aku tinggal diperantauan dimana tak ada keluarga ataupun sodara yang membantu kami, menyewa asisten pembantu takaan mungkin untuk sekarang-sekarang, kami yang tinggal bukan dirumah kami tapi dikontrakan itu saja sudah membuatku ruet mengatur keuangan.
Dari kejadian ini pula aku tau wataq asli tetanggaku dan keadaan lingkungan disekitarku yang membuat aku tak betah dan segera ingin pindah.
***
Ketika aku sedang menyisir rambut anakku tiba – tiba ada yang memgetuk pintu “assalamualaikum de sahla” kulihat jendela dan ternyata tetanggaku namanya bu dila. semua orang segan padanya banyak beredar kabar bahwa beliau biang gosip namun karena aku masih baru dan selalu berpikir positif beliau sosok yang ramah. “wa’alaikumsalam bu dila, ayo masuk bu, maaf berantakan rumahnya, ada apa ya bu pagi pagi datang ke rumah”.
“ engga de sahla, mau berkunjung saja, kamu kan warga baru disini, masih muda lagi jadi kalau dari rt atau rw bisa minta bantuanmu loh, kan cuman jadi irt, jadi gk ada kerjaan selain ngurus rumah” terdengar seperti ungkapan menghujat tapi aku tetap tenang dia lebih dewasa jadi harus dihormati mungkin niatnya baik “ oh iya boleh bu dila , dengan senang hati”.
“ngomong –ngomong anakmu berapa bulan de?”sambil ku bawakan segelas air dan makanan “ alhamdulilah udah 6 bulan bu”. Tanpa basa basi segera beliau minum “ gk keliatan udah 6 bulan yah ko kecilsih , udah dikasih apa emangnya, keponakanku juga sama udah 6 bulan alhamdulilah berat badannya ideal malah keliatan gemuk. Udara terasa panas bukan karena cuaca tapi karena obrolan bu dila padaku ingin rasanya ku teriakan “ mu ngaja ribut apa mau namu sih” namun ku tetap menarik nafas agar tetap tenang dan berprasangka baik bahwa ia memang seperti itu. Tak lama beliaupun berpamitan.
***
3 hari berlalu setelah kejadian keracunan aku mencoba untuk membeli sayuran untuk kumasak karena mas rian sedang ada di rumah jadi sahva ada yang menjaga. Seperti biasa tempat sayuran itu ada di dekat rumah bu dila namun ada kejadian yang membuatku tak suka pada beliau.
Ketika aku mau menghampiri tukang sayur bu dila berteriak seakan menyindir “ makanya bu-ibu rumah itu harus dijaga rapih ,masih muda sayang gk beraktivitas banyak,jadi weh keracunan” semua orang menatapku seakan sudah mengerti dengan yang diongkapkan bu dila , aku menahan malu dengan tersenyum dan menghampiri tukang sayur “mang beli tahu ya sama sayur bayam” tiba –tiba ada seorang wanita berbicara dengan lantang “oh kamu de sahva yang rumahnya jarang dirapihin, kenapa jarang dirapihin masih muda harus banyak aktivitas loh”. Tanganku mengepal kuat menahan emosi yang ingi meledak hanya senyum yang bisaku lemparkan agar tak menjadi panjang. Aku pun pamit dengan muka merah pada semua orang yang ada di tempat sayur.
***
Kututup pintu dengan keras ku buka alas kaki dengan sedikit dibanting.
“ada apa de ko pulang marah-marah sih” wajahku tak mau menatap aku masih kesal ,kalau aku berbicara takut mas rian kena ocehanku. “ de jawab pertanyaan mas , kenapa sayank?, ada apa ditempat sayur hah” sambil memegang tanganku “gk ada apa- apa mas”, mas rian mengerutkan dahi “ gk ada apa- apa ko pulangnya gitu sih, jadi cemberut terus diem,perasaan pas berangkat biasa biasa aja”.
Aku mulai menarik nafas dan mulai menjelaskan secara perlahan “ tadi waktu beli sayur bu dila nyindir sekaligus beberin aib aku depan tetangga mas” tanganku mengepal manahan rasa amarah dihatiku “ gimana gak kesel kalau niat nasehatin masa depan orang kaya gitu, pantesan kata tetangga bu dila emang kaya gitu, kita pindah aku gk betah tinggal disini”air mataku meleleh menahan apa yang terjadi padaku beberapa waktu ini,mas rian mendekatiku dan memelukku “ sabar sayang ,ambil hikmahnya aja, bahwa semoga dengan kejadian hari ini jadi penggur dosa kita ya” sambil tersenyum menatapku” terus kapan kita mau pindah” tanyaku pada mas rian “ do’a saja minta sama allah ,kita bisa punya rumah lingkungannya pun nyaman dan bagus buat anak kita sahva”aku hanya mengangguk mendengar nasihat mas rian , memang benar selama ini aku belum meminta pada yang memiliki langit dan bumi .
***
Setelah kejadian itu kelakuan bu dila semakin membuatku merasa kesal dan ingin mengucapkan kata kata kasar yang membuatnya terbungkam untuk tak asal bicara namun sealau ku tenangkan diri bahwa semua akan dimintai pertangung jawaban di akhir kelak.
Masih terngiang diingatan kejadian yang membuatku benar benar ingi pindah, ketika aku sedang menyusui sahva dan tak melakukan apa –apa, tercium bau gosong yang sangat menyegat. Semua orang ribut diluar. entah apa yang membuatku tak habis pikir mereka menuduhku karena ulah bu dila. Tiba tiba bu dila berteriak “ de sahlaa itu masakannya gosong” dalam hati ingin ku tertawa sekaligus memaki “ orang gak mask apa yang mau gosong”.
Aku keluar dengan berwajah datar dan berpura –pura tak terjadi apa saking sebalnya ingin ku balas perbuatan yang ingin memalukanku itu. “ ada apa bu –ibu ribut, kenapa bu dila?”. Dengan muka yang sedikit tegas , “ de sahal masak bukan, hati- hati kecium bau gosong”. Ku lantangkan suara agar semua mendengar perkataan ku sekaligus mengusir mereka secara halus “ maaf ya ibu-ibu semua juga bu dila, hari ini saya gak masak apa-apa, kalau gak percaya silahkan periksa kedapur”. Dengan muka masam dan sedikit malu bu dila langsung pergi meninggalkan tempat termasuk ibu-ibu yang dibawa budila.
***
Ku buka pintu untuk mas rian , tak kuasa menahan segala kejadian tadi ku meneteskan air mata dan berkata “ kapan kita pindah mas” dengan mata membelalak sekaligus kasihan mas rian menatapku “ ada apa lagi sayangku”.
Hari itu aku tak banyak menjawab pertanyaan mas rian sudah terlalu kelewatan untuk dibicarakan yang ada dalam benak ku saat itu untuk pergi ke tempat yang lebih baik dan damai.
***
Hari –hari pun ku jalani seperti biasa, ketika aku ikhlasan tinggal ditempat tinggal dengan lingkungan seperti itu, tanpa keluhan disertai do’a agar bisa pindah ke tempat yang membuat hati ini tenang.
Satu bulan kemudian allah menjawab do’a ku suamiku pindah kerja, lingkungan dan keadaanpun berubah 180 derajat berbeda.
***
Titik terang itu sudah mulai terlihat dimataku,pagi ini adalah pagi yang sangat penuh dengan kejutan yang membuatku bahagia tak terkira lewat pesan yang disampaikan suamiku setelah satu bulan berlalu menanti keajaiban terjadi pada hidupku.
Ku lipat mukenaku ku simpan diatas lemari kayu yang tingginya tak lebih dariku ku lihat wajah anakku sahva yang lugu yang sabar menunggu ibunya menyelesaikan shalat sunah duha, ketika sedang saling berpandangan dan saling lempar senyum antara aku dan sahva telepon pun berdering
“assalamuailakum de sahla sayang”senyumku melebar mendengarkan suara yang tak asing bagiku “wa’alaikumsalam mas rian kenapa jam segini nelepon, pulang jam berapa sekarang?”tanyaku pada pujaan hatiku. “engga kenapa-napa sayang mas kangen” terdengar suara tertawa kecil dari jauh sana “ apaan sih cepetan jawab” nadaku tegas namun hati berbunga-bunga “ya seperti biasa namun ada yang ingin mas sampaikan cepat cepat kalau nungguin mas pulang kelamaan, tadi mas dapet wa tempat mas ngelamar kerja, alhamdulilah mas diterima kerja disana dan udah bisa pindah kesana minggu depan jadi kita siap-siap mulai besok, barang barang nya dikemas biar gak ada yang ketinggalan”ingin ku melompat saking girangnnya namun ada mata yang melihatku sahva hanya luap-luapan dihati yang bisa diutarankan “alhamdulilah ya allah, keajaiban itu ada”tak terasa air mataku menetes semuanya sudah berlalu ibarat hujan kini pelangi yang bersinar.
“ alhamdulilah kalau de sahla bahagia denger kabar ini, mas mau lanjut kerja sampe ketemu dirumah sayang wasalamualikum” tak banyak yang kutarakan pada mas rian karena kebahagian yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata” iya mas aku tunggu dirumah wa’alaikumsalam”.
Dalam hatiku berkata “pelangi itu datang”
TAMAT
*************************************************
BACA JUGA :Cerpen Hijrah Halif dan Cerpen Hijrah Kaina
Tags:
Hobi
