Menghadapi Konflik Tanpa Stress

Dalam hidup, siapa sih yang tidak pernah mengalami konflik ?


Dari diri pribadi hingga dunia pun pernah berkonflik besar-besaran. Konflik identik dengan bertengkar, bergelut, perang, masalah, dan sebagainya. Kalau bahasa sekarangnya itu, slek. Pernah dengar "Gue lagi slek ama dia" ?

Baiklah, saya gak mau bahas yang jauh-jauh dulu ke antar benua, cukup yang paling dekat saja. Misal, konflik antara orang tua dengan anak, konflik antara suami dengan istri, konflik antara menantu dan mertua, konflik antara teman bahkan sahabat dekat.

Dengan siapakah diri kita mengalami konflik?
Tentu saja dengan orang yang sering berinteraksi dengan kita atau pernah sesekali bertemu. Bahkan, ada loh yang baru bertemu saja sudah konflik , setuju?

Semakin sering bertemu dan berinteraksi biasanya lebih sering terjadi konflik. Baik ringan atau berat. Misal, sering konflik dengan suami, tetangga, dan anak. Tidak mungkin kan saya mengalami konflik dengan Syahrini, ketemu saja tidak pernah?
Kecuali, jika saya stalking sosmednya dan jadi haters disana, haha.

Konflik sebenarnya tidak melulu soal keributan, tinju meninju, tembak menembak. Kalau kehidupan sosial sehari-hari ada pula konflik dengan perang dingin atau main belakang, ih ngeri....

Namun, semua itu biasanya dapat menimbulkan banyak efek. Salah satunya bisa menimbulkan stress kepada orang yang mengalami konflik. Lalu, bagaimana caranya menghadapi konflik dengan bahagia tanpa stress?

Baiklah, diblog ini mari kita sama-sama belajar apa saja sih yang harus kita lakukan untuk menghadapi konflik dengan tenang. Memang kenyataannya tidak semudah teori, tapi dengan mempelajari teorinya itu bertanda hati kita sudah mempunyai niat untuk mewujudkannya. Terus berjuang !!!

Oke lanjut....

Pertama.
Apa penyebab konflik?
Banyak hal. Kata mbah Wiki : "Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi"

Jelas saja kita berbeda banyak hal. Segi fisik, kebiasaan, pendidikan masa kecil, keilmuwan,dan sebagainya. Bahkan, anak  kembar yang dilahirkan bersamaan dari ibu yang sama pun bisa jauh berbeda sifatnya dan pemikirannya. Itu mengapa kita tidak bisa menghindari konflik seumur hidup.

Dan menurut saya pemicu konflik paling banyak terjadi itu dari lisan. Perkataan. Jarang sekali dari fisik. Main fisik pun sering terjadi karena berawal dari lisan. Kemudian sikap.

Maka sangat benar adanya nasehat-nasehat tentang penjagaan lisan itu. Siapa yang bisa menjaga lisan, maka selamatlah dia.

Kedua
Apa efek yang ditimbulkan dari konflik?
Sangat banyak. Namun, yang akan dibahas kali ini yang berkaitan dengan pemicu stress yang dialami orang yang memiliki konflik. Bisa saja kan ? Banyak malah!

Apa saja itu?
Diantara lain yakni marah, dendam, mencari kambing hitam (bukan untuk qurban yah), sedih, dan prefeksionis.


Marah

Sesuatu yang tidak jarang timbul saat konflik yakni marah. Dari marah ini ada yang diam dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata menyakitkan bahkan sampai memyakiti fisik. Orang yang sedang marah dia sedang mengalami stress dalam hidupnya. Masuk kedalam pikirannya orang yang membuat dia marah itu.

Orang terkuat bukanlah kuat fisiknya tapi, orang yang mampu menahan amarahnya. Dia bisa saja marah sepuasnya namun ditahan. Dialah orang terkuat melebihi musuhnya.

Dendam

Konflik kerap memunculkan amarah kemudian tak jarang yang sulit memaafkan lawannya hingga terpendam menjadi dendam. Seorang pendendam bisa tak lelap tidurnya karena memikirkan orang yang dia benci. Sepanjang hari. Dendam itu belum puas jika orang yang dibenci merasakan kesengsaraan. Senang melihat si doi susah dan sebaliknya. Sungguh merana dan tersiksa orang yang pendendam itu. Kuncinya hanya 1, memaafkan.

Kambing Hitam

Sekali lagi, bukan untuk berqurban. Tapi, untuk mengorbankan orang lain demi melindungi dirinya. Saat terjadi konflik yang tidak pernah diinginkan, ia cari siapa yang salah. Menyalahi keadaan bahkan menyalahi tuhannya. Padahal, konflik dalam hubungan sosial merupakan hal yang lumrah dan semua orang ingin merasa dirinya paling benar.

Sedih

Sedih mengapa ini semua terjadi...
(Ya padahal memang harus terjadi kok, apa yang terjadi, terjadilah. Hehe)
Mengapa dia begitu padaku..
Aku tak menyangka...
Oh, oh oh.... hiks...hiks...hiks...

Serius, sedih ini menimbulkan hilangnya semangat, gairah, dan membuat galau dalam menghadapi hidup.

Perfeksionis
Tidak selalu teman kita, suami kita, anak kita menyenangkan hati. Sempurna sesuai keinginannya, mustahil terwujud !
Orang yang menginginkan orang lain selalu dengan kemauannya dia akan stress. Kecewa berat.

Ketiga

Bagaimana cara menguasainya?

>>> Berlatih untuk tidak mengucapkan sepatah kata apapun padanya. Mengingat bahwa ketika kita marah dan melemparkan ucapan, sungguh ucapan itu akan membekas selamanya. Seperti paku yang tertancap dikayu. Meski sudah dicabut lubangnya akan tetap ada.

>>> Hindari berhadapan dengannya sementara waktu hingga marah kita reda.

>>> Mencari ketenangan batin dengan benar misal berwudhu kemudian mengaji atau sholat, memperbanyak dzikir dan sebagainya.

>>> Memaafkan. Ya, ini poin terampuh sekaligus tersulit.
Kita sering mendengar kata " ayolah, beri maaf dia "
Padahal, hakikatnya orang yang paling membutuhkan maaf adalah kita yang merasa ada dipihak 'yang tersakiti'😂

Dengan memaafkan orang lain, kita membebaskan diri kita sendiri dari penyakit dendam. Kita tidak pernah menginginkan ada penyakit yang menggerogoti jiwa bahkan raga kita ,kan ?

>>> Memahami orang lain. Dengan kita menjadi pribadi yang bisa memahami orang lain maka, kita bisa menerima orang lain apa adanya. Ilmu memahami bukanlah ilmu yang sulit dipelajari selama batin kita melimpah cinta kasih sesama manusia. Ilmu yang tidak pernah kita pelajari dibangku sekolah. Jika ingin menguasainya, kita harus sering melatih batin dalam kehidupan sehari-hari.

>>> Mengelola perasaan sendiri. Jangan sampai perasaan kita dikendalikan oleh orang lain. Mengendalikan maksudnya?
Ya, misal meski orang lain menghina merendahkan kita, kita tetap bisa bahagia tetap bisa mulia. Perasaan kita tidak terpengaruh oleh perbuatan atau perkataan orang lain.

>>> Berdamai dengan situasi
Konflik terjadi kita ingin selalu berdebat dengan kenyataan yang pada akhirnya kenyataan selalu menang. Jangan menolak konflik yang sudah terjadi. Orang -orang tersayang menyakiti perasaan kita pun sudah terjadi mustahil kita bisa mengubahnya. Ya sudah terima kenyataan.

Bagaimanapun kita tidak menerimanya, tetap saja tidak bisa mengubahnya dengan apa yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sudah terjadi kan? So, berdamailah dengan situasi.

>>> Keep calm, setiap konflik pasti ada jalan keluarnya. Apakah dengan tenang menjamin masalah selesai begitu saja?
Tentu tidak. Namun, jika kita tenang mental kita lebih siap dan lebih mudah menemukan jalan keluar.
Ada masalah, ada solusi.

Semangat !

Referensi:
Semua bisa bahagia Dr.Usman Jasad hal 209 : Perasaan Beracun


#1minggu1cerita
#minggubertemakonflik
#kepengennyatemabahasa
#biarsekalianngerjaintugaskuliahbahasaindonesia
#yasudahlah
#berdamaidengansituasiwkwkwwk

3 Comments

  1. Konflik yang terjadi pada saya, khususnya terhadap suami kebanyakan karena saya perfeksionis, dan suami santaisionis hahahah.

    Gitu deh, kudu pandai memilah dan menjalani dengan bijak :)

    ReplyDelete
Previous Post Next Post