Rasulullah Jago Berbisnis

 Rasulullah is The Master of Bussiness

Bisnis Muslim
Baginda Nabi Muhammad SAW sangat jago dalam berbisnis, lho.

Beliau berbisnis dengan modal kejujuran dan keseriusan sehingga dikagumi oleh para pedagang Syam saat itu.

Termasuk Khadijah Al Kubra sebelum menikah dengan beliau yang kagum dengan cara bisnis Rasulullah.

Setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi, beliau tidak memaksa semua orang yang bersama beliau untuk menjadi seperti Abdullah bin Umar, menjadi ulama'.

Beliau tidak memaksa semua orang untuk duduk di Masjid belajar Agama sebanyak-banyaknya.

Akan tetapi, Rasulullah membiarkan sebagian orang untuk melestarikan semesta, merawat kurma, mengatur urusan dunia, berbisnis, dsb.

Sehingga munculah pembisnis-pembisnis besar seperti Abdurrahman bin 'Auf.

Demikian makna dan fungsi dari "innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah", Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah di Bumi untuk melestarikan semesta.

Cara melestarikan semesta di zaman ini adalah menguatkan ekonomi.

Ekonomi yang harus dikuatkan adalah ekonomi yang mempunyai tujuan bagaimana memperbaiki hubungan Allah dan hubungan manusia.

Apa artinya jika ada orang kaya yang egois dan tidak senang berbagi?

Siapa yang bisa menikmatinya?


Orang kaya tadi itu tidak akan bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup.

Orang kaya tapi tamak dan egois adalah kesia-siaan dan miskin sesungguhnya.

Orang kaya sesungguhnya adalah orang yang bisa berbagi dengan orang lain.

Ingat, kalau ada orang yang katanya dia adalah orang kaya, namun tamak dan bakhil berarti dia orang kaya KW. Alias tidak 100% original, hehe.

Alangkah baiknya jika diantara kita sebagai muslim ada yang menjadi pakar ekonomi yang handal, jago soal ekonomi, yang bisa mendongkrak ekonomi negeri.

Ekonomi yang benar dan jujur.

Nabi Muhammad melarang kita untuk curang, membeli dagangan yang sudah ditawar oleh orang lain (merampas tawaran orang lain), dan mengurangi timbangan atau takaran.

Jadi, kita perlu menanam hati yang rindu   kepada Allah dengan harta kita.

Mari kita coba pasang mindset, bagaimana caranya kita bisa berbagi dengan sesama manusia.

Tolong menolong dengan sesama manusia untuk menuju Allah ta'ala.

Jadi, ada tujuan dalam segi kemanusiaan secara umum kemudian setelah itu disaat kita terjun dalam dunia ada juga tujuan menuju akhirat.

Jangan sampai kita menghakimi hal buruk seseorang yang sibuk dalam bekerja.

Bisa jadi, secara fisik dia sibuk bekerja, namun hatinya punya tujuan yang mulia untuk akhirat. Bekerja karena Allah ta'ala. Tentulah ia bekerja juga tidak melanggar syari'at Allah.

Berjanjilah, hari terus berganti, semoga nasib kita adalah nasib yang sukses.

Baik sukses di dunia maupun di akhirat. Berjanjilah, jangan menunggu nanti-nanti.

Alangkah banyaknya orang yang sukses dalam segi dunia, akan tetapi dia lupa akan akhirat.

Dia terlena dan terus terlena oleh kenikmatan dunia sesaat. Kemudian, tanpa dia sadari malaikat Izrail akhirnya datang. 

Sementara, dia tidak mempunyai apapun sebagai bekal di akhirat nanti. Karena kekayaannya bukan untuk kemanusiaan, bukan fii sabilillah. Hanya untuk memperkaya diri.

Sebagaimana telah Allah gambarkan dalam surat At Takatsur dalam Al Qur'an yang bermakna bermewah-mewahan.

 Mereka dilalaikan oleh hartanya sampai  mereka masuk ke liang kubur. Na'dzubillah.


Jika ada yang bilang jadi orang kaya itu sombong, jauh dari surga, tidak selamat dari neraka.

Ketahuilah, bahwa banyak orang kaya yang selamat. Contohnya, ada Nabi Ayyub, ada Nabi Sulaiman, Daud, Yusuf yang bahkan mereka adalah raja.

Jadi, untuk masuk ke Surga bukan persoalan kaya atau miskin melarat. Tidak.

Perlu kita ingat bahwa siapa diantara kita yang diberikan kemudahan oleh Allah dalam urusan dunia itu artinya Allah mengamanahi kita untuk menggunakan dunia di jalan Allah.

 Jadi, bukan hanya untuk menyenangkan diri sendiri tapi juga untuk menolong orang lain.

Post a Comment

Previous Post Next Post