Membuat timbunan barang itu sangat mudah. Coba ingat-ingat bagian tempat di rumah kita yang awalnya kosong.
Waktu berlalu hingga tak terasa bahwa selama ini kita sedang membangun sebuah timbunan.
Saat mau bersih-bersih, kita baru sadar sekaligus mulai bingung mau mulai mengurangi timbunan dari mana.
Keterikatan semu itu muncul saat kita merasa bahwa semua barang itu sayang untuk dibuang atau dilepaskan.
Banyak orang yang tidak bisa melihat suatu tempat yang kosong, bawaannya mau diisi terus. Apa aja deh.
Kita suka iseng membeli lemari atau tempat penyimpanan baru.
Tambahan lemari baru, berarti tempat baru, untuk barang-barang baru.
Artinya ya menumpuk barang lagi. Artinya?? Mungkin kita belum siap untuk hidup minimalis.
Kenapa?
Karena setiap ada tempat kosong, pasti kita gatal untuk menaruh sesuatu di sana.
Ini sama saja seperti mengundang barang-barang baru yang sebelumnya tidak ada atau bahkan tidak perlu, dan tanpa sadar kita terjebak menjadi lebih konsumtif.
Ada juga yang beralasan bahwa lemarinya sudah tidak muat.
Sebenarnya hal ini bisa kita jadikan sebagai sebuah tantangan.
Sebagai contoh, lemari di kamar kita yang ada hanya satu buah. Lalu, kita berkomitmen bahwa lemari yang kita miliki sampai kapanpun cukup satu.
Jadi jika suatu saat kita merasa barang-barang tidak muat di dalam lemari, itu artinya, barang-barangnya lah yang harus dikurangi, bukan lemari baru yang harus kita beli.
Begitupun kartu memori.
Kadang semua sampah digital itu berawal dari hal sederhana, yaitu kebiasaan asal menyimpan dan malas memilah-milah.
Menganggap semua file itu penting padahal tidak.
Lama-lama penuh, lalu bingung sendiri harus mulai menghapus dari mana.
Alih-alih menghapus, orang lebih suka membeli hardisk atau memori baru.
Gak ada kapoknya dan begitu seterusnya.
