Cara Mengurangi Barang #BelajarHidupMinimalisPemula

 

Cara Mengurangi Barang

✓Kita bukan hanya merapikan rumah, tetapi juga mengurangi yang tidak perlu.

✓Decluttering atau mengurangi barang ada 3 cara, yakni: Donate/Sell/Recycle

✓Decluttering beda dengan merapikan.

✓Merapikan berarti kita hanya menata, tidak ada perubahan dalam hal kuantitas atau jumlah barang, hanya posisi dari benda-bendanya saja yang lebih teratur.

✓Mendonasikan/menghibahkan kepada yang membutuhkan barang tersebut. Sehingga barang tersebut menjadi bermanfaat bagi orang lain.

✓Menjual. Untuk barang-barang yang dirasa berat untuk kita berikan secara cuma-cuma karena barang tersebut memiliki nilai jual yang lumayan. Boleh kita menjualnya dengan harga yang pantas. Atau jual cepat dengan harga yang sangat murah. Sehingga memudahkan orang lain yang butuh barang tersebut namun terkendala biaya.

✓Membuang. Biasanya untuk barang-barang yang rusak dan tidak bisa diperjualbelikan apalagi dihibahkan.

✓Memang tidak mudah untuk melepaskan begitu saja barang-barang yang kita miliki apalagi jika barang-barang itu memiliki kenangan berarti dalam hidup kita. 

✓Ini penyakit mendasar, “Dibuang sayang”.
"Belum tahu mau buat apa, tapi jangan dibuang dulu siapa tahu bla bla bla..."

✓Selalu saja pada akhirnya hanya sedikit barang yang kemudian rela disingkirkan karena rasa kepemilikan semu "dibuang sayang", padahal tersentuhpun jarang.

✓Coba deh kita pikirkan kembali dengan tenang, apakah semua barang itu benar-benar memiliki fungsi yang kita butuhkan saat ini?
Sehingga kita harus terus menyimpannya?

✓Padahal, diluar sana masih banyak orang yang membutuhkan barang yang kita miliki saat ini. Sementara, barang tersebut hanya kita simpan tidak tersentuh. Menimbun.

✓Ingat, minimalisme bukan tentang hitungan atau seberapa sedikit jumlah barang yang kita miliki, tapi tentang seberapa sadar kita untuk lebih mengutamakan kebutuhan dari pada sekedar mengejar keinginan yang semu.

✓Kalaupun sekiranya suatu saat kita butuh, kita bisa sabar untuk tidak membelinya lagi atau bisa menyewa barang yang sudah kita ketahui bahwa barang tersebut tidak begitu sering kita gunakan.

✓In syaa Allah, jika kita niatnya ingin membantu dan memudahkan urusan orang lain. Maka, Allah akan mudahkan urusan kita suatu saat nanti. Jika tidak di dunia, ya di akhirat.

✓Semoga dengan decluttering ini Allah ringankan hisab kita diakhirat kelak.

✓Berikut contoh penyakit decluttering:
1. “Ah plastik atau kardus ini jangan dibuang dulu, nanti bisa untuk ini dan itu siapa tahu nanti perlu…” 
2. “Ah TV dan sepeda rusaknya jangan dibuang dulu nanti bisa dijual..” 
dst....
Sampai disini mungkin tidak masalah.

✓Masalahnya adalah ketika tidak ada tindak lanjut untuk semua barang yang dimeseumkan itu, sementara barang-barang “dibuang sayang” malah terus bertambah yang baru setiap waktu.

✓Akhirnya, timbunan itu semakin membludak saja.

✓Itu karena masuk dan keluarnya barang kedalam rumah tidak seimbang.
Terus, mau sampai kapan?
Harus ada kesadaran dari diri kita sendiri.

✓Jangan menunggu kesadaran itu muncul  karena jumlah barang sudah tidak terbendung dan sudah tidak ada tempat lagi.

✓Mengubah kebiasaan lama menyingkirkan perasaan dibuang sayang terhadap barang-barang, harus dilakukan secara bertahap. 
Agar lebih mudah realisasinya.

✓Kita boleh memulai dengan membuang benda-benda yang memang sudah rusak dan sudah tidak memiliki nilai jual.

✓Untuk seterusnya, miliki prinsip:
"MASUK SATU, KELUAR SATU"
Jadikan ini prinsip jika kita ingin hidup minimalis.

✓Jika ada yang masuk satu barang, entah itu beli atau dikasih,  minimal keluarkan satu barang yang lain.

✓Entah itu bisa di hibahkan, dijual, atau dibuang.

✓Timbunan itu muncul karena kita terus menambah tanpa ada yang dikeluarkan.

✓Seperti saluran air yang mampet. Lama-lama pasti akan banjir, begitu juga dengan barang-barang di rumah kita.

✓Dengan cara ini, kita akan terhindar dari menimbun barang lagi dan lagi.


Post a Comment

Previous Post Next Post