Mencari Cinta Rasulullah. Kita merayakan maulid nabi dalam rangka mencari cinta nabi Muhammad.
Sebab cinta kepada Rasulullah itu adalah keselamatan kita yang sesungguhnya. Kebaikan amal yang kita lakukan sebanyak apapun jika tidak dilakukan atas dasar sambung hati kita dengan Rasulullah, kerinduan dan kecintaan kita kepada Rasulullah, maka ketahuilah tidak ada maknanya.
Untuk menggapai Cinta Allah akankah hanya dengan mengikuti Rasul-Nya saja?
Jikalau demikian, alangkah rendahnya cinta Allah. Dan sesungguhnya tidaklah demikian.
Jadi, untuk menggapai cinta Allah tidak cukup dengan mengikuti Rasul-Nya saja. Kenapa?
Karena orang-orang munafik juga mengikuti Rasulullah.
Suruh kesana, mereka kesana. Suruh kesini, mereka kesini.
Banyak makhluk Allah makan dengan tangan kanan seperti Rasulullah.
Baik muslim atau kafir.
Banyak orang berumroh, bersujud, seperti umrohnya dan sujudnya Rasulullah.
Namun, apakah mereka pasti sudah menjalankan sunnah nabi dan akan dicintai Allah?
Tidak, tidak ada maknanya itu semua jika tidak ada ruhnya.
Dan ruhnya yang mengikuti Rasulullah itu adalah cinta. Begitulah makna dari mengikuti baginda Rasulullah.
Jadi, yang membedakan kita dengan mereka yang sedang melakukan apa yang dilakukan Rasulullah (misal, makan dengan tangan kanan) adalah hadirnya hati kita bersama Rasulullah. Merasakan kalau kita sedang mengikuti Rasulullah.
Jangan sampai kita tertipu dengan sunnah dzohir (yang terlihat kasat mata) tapi, tidak sampai kepada sunnah batin (tidak kasat mata alias dihati). Begitupun sebaliknya.
Jadi, sunnah dzohir yang terlihat adalah upaya untuk mencapai sunnah bathin, yakni rasa cinta yang dalam kepada baginda Rasulullah.
Sholluuu 'alaa Nabi !
***
Referensi:
Kajian Online bersama Buya Yahya di Al Bahjah TV
Tags:
Edukasi
