Semestinya kita tidak boleh jauh dari Rasulullah. Berkatalah bahwa Rasululullah itu ada. Dimana ? Dihatikuuuu.......
Serius !
Iya, serius kuadrat !
Jangan nyambung wifi aja, ya...
Tapi kita juga harus sambung hati kita kepada Rasulullah.
Meskipun kita tidak hidup bersamanya. Namun, hati kita nyambung ke Rasulullah bagaikan Rasulullah itu ada dalam hidup kita.
Manusia yang hidup bersama Rasulullah, belum tentu hatinya nyambung dengan Nabi Muhammad. Siapakah dia?
Abu Lahab, Abu Jahal, dan lain-lainnya.
Begitupun kita yang tidak hidup bersama beliau, bahkan belum pernah melihatnya. Bisa kok hati kita connect ke Rasulullah.
Loh kok, bilangnya connect ke Rasulullah? Bukannya harusnya hati kita connect ke Allah ya ? Syirik donk !!! Sesatt donk!!!
Santuy bro n sis,
Oke, lanjut!
Dan kita juga diperkenankan datang ke kubur Rasulullah. Sebagaimana Ulama kita terdahulu , Ibnu Katsir sendiri saat menghadirkan Tafsir Ibnu Katsir.
Ada ayat yang bercerita tentang seseorang yang duduk di samping kubur Rasulullah melihat ada seorang Badui yang datang kepada Rasulullah.
"Yaa Rasulullah aku mendengar Allah berfirman bahwa kalau ada yang melakukan dosa, lalu datang kepadamu wahai Rasulullah. Orang itu beristigfar, kemudian diistigfari oleh engkau maka Allah akan mengampuninya. Jadi, yaa Rasulullaah tolong mintakan ampun dosa-dosaku kepada Allah"
Dan apa yang terjadi?
Sesorang itu tertidur di samping kubur Rasulullah dan bermimpi bertemu Rasulullah. Beliau menyampaikan bahwasanya, orang Badui tadi sudah diampuni dosanya.
Ada sebagian orang yang melemahkan kisah ini. Kisah ini adalah mimpi dan tidak bisa dijadikan hujjah. Namun, yang bisa kita jadikan hujjah adalah Ibnu Katsiir.
Beliau adalah orang besar yang mendatangkan kisah ini. Beliau bukan orang bodoh mengenai kesyirikan, tentang Aqidah.
Sebab syirik bagi ahli ilmu adalah bukan sesuatu yang tersembunyi.
Hanya hamba-hamba yang jauh hatinya dari Rasulullah yang mengatakan kalau ini adalah tidak benar. Mereka yang senang memfitnah para ulama.
Bukan masuk kepada bab Syirik karena kita tidak minta sesuatu kepada Nabi secara langsung.
Ini istighotsah. Jangan ada yang bilang kalau ini perbuatan syirik. Karena kita tidak minta diampuni oleh Rasulullah. Tapi, kita minta kepada Rasulullah untuk diistigfarkan.
Dan Ibnu Katsir menyebut disini bukan asal sebut. Sebab beliau mengatakannya berulang-ulang dalam tafsirnya sendiri, Tafsir Ibnu Katsir.
Rasulullah memang telah wafat. Namun, Allah memberikan kehidupan kepada Rasulullah itu lain daripada yang lainnya.
Yang kita bangun adalah keyakinan disini.
Rasulullah mulia disaat hidup.
Rasulullah mulia disaat meninggal.
Rasulullah punya pangkat disaat hidup.
Rasulullah punya pangkat disaat meninggal.
Jadi, syarat tobat yang sesungguhnya untuk mendapat pertaubatan dari Allah adalah:
1. Datang kepada Rasulullah untuk dimintakan ampun secara badaniyah atau ruhiyah . Secara fisik jauh, namun lebih dekat akan semakin bagus . Ada maknanya.
Jikalau tidak ada maknanya, lalu mengapa Abu Bakr Ash Shidiq dan Umar bin Khattab meminta dikubur dekat dengan Rasulullah?
Jadi, bercita-cita bisa ziaroh ke makam Rasulullah adalah boleh.
2. Kita sendiri minta ampun dengan lisan sendiri yang penuh kesadaran akan dosa-dosa.
3. Setelah itu nanti Rasulullah akan mendoakan kita. Beliau memohonkan ampun kepada Allah untuk kita.
Ada hadits sohih menyatakan bahwa Rasulullah telah disodorkan amalan ummatnya kepada beliau.
Jika amalan itu baik, aku akan sanjung Allah, memuji nama Allah. Namun, jika amalan itu jelek aku akan memohon ampun kepada Allah.
Begitulah sayangnya Rasulullah kepada ummatnya tidak pernah terputus.
Mari, sambungkan hati kita, connect to Rasulullah !
***
Konten ini adalah resume novy.my.id dari Kajian online bersama Buya Yahya di Al Bahjah TV
Tags:
Edukasi
